Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Senin, 16 Februari 2026

Penggerak Yang Menggerakkan Nahdlatul Ulam

Selama ini, di lingkungan jamiyah Nahdlatul Ulama, kita mengenal penggerak utama Nahdlatul Ulama ketika sebelum dan di awal-awal pendiriannya adalah KH A. Wahab Hasbullah. Sebagai seorang penggerak, Kyai Wahab menjalankan misi gerakan, dengan menggerakkan orang, dalam hal ini kyai-kyai, untuk secara bersama-sama terlibat dan melakukan kegiatan dalam jamiyah baru Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana yang pernah kami tulis, menggerakkan seluruh kyai di wilayah Jawa, Madura, bahkan Sumatera dan Nusa Tenggara Barat saat itu, berarti menggerakkan sekian ratus ribu, bahkan sekian juta orang jamaah untuk terlibat dan berkegiatan dalam jamiyah Nahdlatul Ulama. Karena seorang kyai di satu kabupaten bisa menjadi pemimpin dari sekian ribu jamaah. Jamak kita ketahui, seorang kyai yang mampu menggerakkan sekian ribu jamaah tersebut merupakan perwakilan jamaah yang "dipilih" secara selektif dan substantif dalam jangka waktu yang panjang. Pemilihan tersebut sangat jauh berbeda dengan pemilihan anggota parlemen atau pemimpin politik daerah atau pusat.

Dalam satu tulisan pernah diceritakan, bagaimana Kyai Wahab mendatangi satu persatu, melobi dan meyakinkan para kyai yang ada di beberapa daerah untuk terlibat, masuk menjadi anggota dan melakukan kegiatan di jamiyah Nahdlatul Ulama. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Nahdlatul Ulama menjadi jamiyah (organisasi) yang sangat besar. Apalagi upaya yang dilakukan Kyai Wahab sudah ditopang oleh kelembagaan pondok pesantren, lebih jauh lagi oleh kelembagaan paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Madzahibil Arbaah. Dalam hal ini, Kyai Wahab melakukan pengorganisasian kyai-kyai yang mengasuh pondok pesantren dan kyai-kyai yang berpaham Aswaja ala Madzahibil Arbaa, yang hampir seluruhnya adalah alumni pondok pesntren.

Misi yang dijalankan Kyai Wahab merupakan upaya membangun sebuah gerakan besar yang lingkup wilayahnya tidak main-main: se-Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Misi yang telah dijalankan Kyai Wahab adalah untuk visi menjaga dan melestarikan ajaran Aswaja tetap dijalankan dengan baik. Oleh siapa? Oleh para jamaah, yang selanjutnya menjadi anggota Nahdlatul Ulama. Ajaran Aswaja apa? Ajaran dalam hal ibadah dan muamalah, termasuk bagaimana para jamaah bisa hidup sejahtera di dunia.

Jika Kyai Wahab sudah menggerakkan sekian ratus, bahkan mungkin sekian ribu Kyai, selanjutnya bagaimana para kyai menggerakkan jamaah Nahdlatul Ulama agar bisa terus melestarikan ajaran Aswaja, terutama di jaman yang penuh gejolak sosial, ekonomi dan politik saat ini. Menggerakkan jamaah, terutama untuk urusan muamalah (sosial, ekonomi bahkan politik keumatan) tidak harus dimulai dari lingkaran yang besar.

Menggerakkan jamaah adalah melakukan satu kegiatan secara bersama-sama untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan dalam berbagai bidang kehidupan: sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Masalah sosial budaya terkait dengan relasi antar jamaah. Kebutuhan sosial budaya bisa terkait dengan penyelenggaraan majelis dzikir dan majelis ilmu. Masalah ekonomi dan kebutuhan ekonomi terkait dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Sedangkan masalah politik terkait dengan partisipasi dalam kebijakan publik.

Karena dari melakukan kegiatan secara bersama-sama ini, jamaah bisa saling memahami antara satu dengan yang lain, sehingga akan tumbuh solidaritas yang lebih besar. Bukan sekedar solidaritas yang sifatnya emosional, tetapi solidaritas yang bersifat rasional, dan bertumpu ke kesamaan nasib dan berjuang untuk mengubah nasib yang lebih baik. Dari solidaritas yang tumbuh ini, soliditas dan konsolidasi jamiyah Nahdlatul Ulama akan bertambah kuat. Di sinilah makna al ittihad yang disebut dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama, yang ditulis Hadratus Syaikh Hasyim Asyari.

Solidaritas yang kuat akan menumbuhkan perjuangan untuk meraih visi besar Nahdlatul Ulama yang tertuang secara jelas dalam AD/ART Perkumpulan Nahdlatul Ulama: berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta. (Alba)

Minggu, 15 Februari 2026

20 Tahun Koperasi Cakra



(Laporan Pengurus Kop Cakra dalam RAT 2025)

Koperasi Cakra adalah koperasi komunitas, yang anggotanya berdomisili dalam satu komunitas, yaitu komunitas warga RT 18 desa Sengon Jombang. Koperasi Cakra bukanlah lembaga ekonomi yang besar. Lingkup wilayah kerjanya hanya dalam satu RT. Koperasi ini memulai aktifitas dari jumlah anggota yang sedikit, dan dengan modal yang kecil, yang seratus persen berasal dari simpanan anggota.

Koperasi ini didirikan pada bulan Agustus 2006. Pendirian koperasi ini dilakukan setelah delapan orang yang menjadi panitia dan pembina kegiatan peringatan hari kemerdekaan RI melakukan musyawarah yang membahas kegiatan apa yang bisa menjadi kelanjutan dari kegiatan yang telah dilakukan secara bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab persoalan warga. Hasil dari musyawarah tersebut menyimpulkan bahwa, persoalan yang paling utama di lingkungan RT 18 yang harus dicarikan solusinya adalah banyaknya lembaga keuangan simpan pinjam, yang memberikan pinjaman ke warga dengan bunga yang cukup tinggi, dan banyaknya warga terjerat hutang yang terus berkembang sangat cepat dan sulit untuk menutupnya, karena bunga yang dipatok sampai sebesar 40 persen.

Setelah musyawarah tersebut, ada musyawarah lanjutan yang hasilnya menyepakati untuk mendirikan koperasi simpan pinjam, yang benar-benar akan dijalankan dengan prinsip-prinsip koperasi, meskipun dalam lingkup yang kecil. Tujuan pendirian Koperasi Cakra adalah untuk menciptakan akses ekonomi, terutama keuangan, bagi masyarakat, sehingga bisa tercipta keadilan dalam ekonomi.

Pendirian koperasi ini tidak datang begitu saja, karena pada waktu itu ada beberapa kelompok masyarakat di Jombang yang telah memulai menjalankan usaha koperasi, sebagai jawaban dari kebutuhan kongkrit. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut tergabung dalam sebuah forum bersama bernama Konsorsium Rakyat Jombang. Usaha koperasi di kelompok-kelompok masyarakat tersebut kemudian disampaikan dalam musyawarah dan akhirnya disepakati pendirian koperasi. Dalam musyawarah tersebut juga disepakati simpanan pokok (Simpo) awal sebesar Rp 20.000, yang akan ditambah nilainya setiap tahun, serta simpanan wajib (Simwa) sebesar Rp 10.000 setiap bulan.

Setelah berdiri, dan kegiatan simpan pinjam mulai berjalan, diantara pengurus yang dipilih masih merasa pesimis. Karena secara riil belum memiliki pengalaman dalam menjalankan kegiatan usaha koperasi simpan pinjam. Namun setelah berjalan satu tahun, yang ditandai dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) I tahun 2007, ternyata banyak warga yang tertarik dengan kegiatan koperasi, karena semua keputusan penting terkait dengan usaha simpan dan pinjam ditentukan oleh anggota. Dalam RAT I tersebut, anggota berkembang cukup pesat. Dari awal hanya delapan orang menjadi empat puluh orang. Sedangkan dalam laporan neraca yang dibuat pada tahun pertama tersebut, aset-nya (aktiva) berkembang menjadi sebesar 10 juta.

Dari sini, nilai manfaat koperasi ini sudah mulai dirasakan oleh semua anggota, dimana akses mendapatkan dana, baik untuk modal usaha maupun untuk kebutuhan khusus, bisa didapatkan dengan mudah, denan jasa sesuai dengan yang disepakati oleh anggota. Hal ini, karena koperasi, termasuk koperasi Cakra didirikan untuk sebesar-besarnya memberikan manfaat bagi anggota. Meskipun begitu, dalam melakukan pendidikan koperasi, pengurus selalu menyarankan kepada anggota, agar ketika pinjam ke koperasi digunakan untuk hal-hal yang produktif, supaya dana bisa dikembangkan. Tidak menggunakan dana pinjaman dari koperasi untuk belanja barang konsumtif.

Rutin Menyelenggarakan RAT Setiap Tahun

Meskipun dengan modal awal yang kecil dan, dengan jumlah anggota yang tidak banyak, Koperasi Cakra dalam pengelolaannya benar-benar menjalankan prinsip-prinsip koperasi. Salah satunya semua keputusan dilakukan secara demokratis melalui musyawarah anggota dalam RAT, yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun, sejak tahun pertama. Kecuali saat terjadi pandemi Covid 19, RAT ditiadakan, laporan hanya dikirim melalui media sosial.

Keputusan yang dibuat dalam RAT merupakan keputusan-keputusan strategis selama satu tahun ke depan. Keputusan-keputusan tersebuut antara lain terkait dengan usaha yang dilakukan dalam setahun ke depan, keputusan tentang besaran jasa simpan dan pinjam, keputusan penambahan besaran Simpo, dan keputusan maksimal nilai nominal dana yang dipinjamkan ke anggota.

Dalam RAT juga dilaporkan dan dibahas tentang laporan keuangan, antara lain laporan rugi laba (R/L), laporan nominal Simpo dan Simwa setiap anggota, laporan sisa hasil usaha (SHU) dan laporan neraca. Dari sini semua kekayaan Koperasi Cakra bisa diketahui oleh seluruh anggota. Dari sini juga, anggota bisa belajar tentang keuangan koperasi.

Setelah Berjalan 20 Tahun

Pada tahun 2026, Koperasi Cakra sudah berumur 20 tahun. Perjalanan yang lumayan panjang, jika dilihat dari umur manusia. Saat ini jumlah anggota sudah mencapai 86 orang. Hampir semua warga lingkungan RT yang produktif menjadi anggota. Secara demografis, RT 18 Sengon merupakan RT yang memiliki jumlah warga yang cukup banyak. Ada sekitra 200 keluarga yang berdomisili di RT 18. Karena itu, termasuk wilayah RT yang padat. Jumlah keluarga dan penduduknya jika dibandingkan dengan RT-RT yang lain, apalagi yang berada di wilayah desa bisa dua atau tiga kali lipat.

Dari sisi perkembangan usaha, setelah 20 tahun berjalan, yang dimulai dari modal yang sangat kecil, dalam laporan neraca tahun 2025 dinyatakan:

1. Jumlah total aset (aktiva) Rp 587.569.800,- yang terdiri dari kas Rp 103.711.000,- dan piutang Rp 483.858.800,-

2. Total kewajiban (liabilitas) Rp 365.708.000,-

3. Total kekayaan (ekuitas) Rp 221.861.800

Sedangkan simpanan pokok anggota saat ini menjadi Rp 750.000,- untuk setiap anggota, simpanan wajib tetap Rp 10.000,- setiap bulan. Bagi anggota yang baru bergabung bisa membayar simpanan pokok dengan mengangsur setiap bulan.

Memenuhi Kebutuhan Riil Anggota

Dalam perjalanannya, disamping menjalakann kegiatan simpan pinjam, Koperasi Cakra juga pernah menjalankan usaha jual sembako. Usaha ini dijalankan sekitar tahun 2010-2013, dengan melayani belanja sembako anggota. Namun usaha ini tidak lagi dijalankan karena pengurus yang terbatas merasa berat dengan dua usaha yang telah dijalankan, dan Koperasi Cakra kembali fokus kepada usaha simpan pinjam.

Dalam salah satu RAT, pernah ada keputusan yang sangat membantu anggota, yaitu pinjaman kepada anggota di saat-saat membutuhkan. Kebutuhan tersebut ketika tahun ajaran baru sekolah, dimana banyak anggota yang membutuhkan untuk biaya anak masuk sekolah. Juga disepakati meminjamkan untuk kebutuhan dana besar saat punya hajat, misalnya acara mengkhitankan anak atau acara pernikahan anak. Dengan syarat, setelah acara selesai, pinjaman harus segera dilunasi, agar bisa dipinjamkan kepada yang lain. Karena saat itu, aset koperasi masih sedikit.

Koperasi Cakra Juga Berfungsi Sebagai Lembaga Sosial

Secara kelembagaan Koperasi Cakra merupakan lembaga ekonomi, khususnya lembaga keuangan, yang berusaha dalam bidang keuangan. Namun secara fungsi, Koperasi Cakra juga menjadi lembaga sosial, dimana di dalamnya juga dimusyawarahkan masalah-masalah sosial, khususnya yang terjadi di lingkungan RT 18.

Masalah keamanan lingkungan, kebersihan, hubungan antar warga juga dibicarakan dalam pertemuan rutin bulanan. Dalam pertemuan rutin, disamping melakukan aktifitas keuangan, berupa pembayaran pinjaman dan simpanan, anggota juga berembug tentang berbagai masalah sosial. Sejak berdiri sampai sekarang, ada banyak masalah sosial yang bisa difasilitasi penyelesainnya melalui musyawarah di kopareai Cakra. Dari sini bisa dikatakan bahwa, koperasi Cakra tidak hanya menyelesai persoalan dalam dimensi ekonomi, tetapi juga bisa menjadi tempat untuk menyelesaikan persoalan dalam dimensi sosial.

Rabu, 02 September 2020

Mie Jawa Legenda Pak Atim Jombang

Bicara tentang kuliner Jombang, maka sangat teledor, dan bisa saja "berdosa" menurut hukum culinary, jika kita meninggalkan nama-nama besar peletak tonggak makanan dengan masakan khas orang Jombang. Jenis menu masakan mungkin sama dengan wilayah lain, tapi  ada rasa khas-nya, yang akan terekam dalam memori rasa bagi penggemarnya.

Apabila kita bicara sate kambing, jangan sekali-kali meninggalkan nama besar Pak Slamet. Jika bahas Rawon, singkirkan semua nama selain rawon Kamdina. Sedangkan untuk mie dan nasi goreng Jawa, tidak ada nama lain yang bisa diungkapkan selain nama besar Pak Atim. Untuk soto ayam, tentu nama Pak Loso yang akan bertengger di papan menu.

Nah... beberapa hari ini, saya betul-betul kangen dengan bau dan rasa mie Jawa Pak Atim. Nama legendaris yang menghiasai atmosfer kuliner mie dan nasi goreng khas Jombang, sejak masa penjajahan sampai akhir tahun 90-an. Jauh sebelum mie gerobak, yang rata-rata berbau Chinese food merajalela merambah kemana-mana bahkan sampai ke sendi-sendi perkampungan terkecil.

Bagi generasi yang tumbuh kembang paling akhir tahun 80-an, jika mau menikmati mie, maka alamat warung yang harus dituju adalah warung Mie dan Nasi Goreng Pak Atim, yang berada di kawasan "koplak-an" Pasar Legi Jombang. Saat ini berada di sekitar pasar kembang, yang berada di bagian barat Pasar Legi. Setelah Pasar Legi kebakaran pada tahun 1997, Pak Atim pindah ke jalan Merdeka Jombang, sekarang  jalan Abdurrahman Wahid. Beliau meninggal pada tahun 2001.

Ndak tahu, 3-4 hari yang lalu, aroma mie Jawa Pak Atim semerbak memantik saraf perasa saya. Ndak tahu juga, darimana aroma itu berasal. Ini memang agak semacam klenik yang bisa saja terjadi dalam dunia culinary. Setelah merenung setengah semedi hampir 2 hari, akhirnya signal lokasi yang pernah terdeteksi masuk dalam pantauan ingatan berbunyi bahwa, pewaris tunggal mie Jawa Pak Atim saat ini masih berjualan. Ya... Pak Gun. Tapi semoga dia masih berjualan. Dia adalah pewaris yang menjadi anak ideologis masakan khas Pak Atim. Karena anak biologis Pak Atim sampai saat ini tidak ada yang mewarisi.

Masih terekam jelas dalam ingatan, Pak Gun ini, kala itu adalah pemuda yang memiliki job description mengipasi bara arang yang ada di bawa wajan Pak Atim, sekaligus membungkus mie pesanan yang dibawa pulang. Pak Atim sampai akhir hayatnya termasuk penganut paham anti api minyak tanah, apalagi api elpiji. Beliau selalu menggunakan arang untuk memasak mie dan nasi goreng. Sehingga masakannya betul-betul beraroma khas.

Setelah menuju lokasi berjualan Pak Gun, dimana sekitar 5 tahun yang lalu saya mengunjungi warungnya, hampir saja saya kecewa. Karena di lokasi tidak saya temukan. Tapi alhamdulillah, setelah tanya penjaga toko yang ada di sekitar lokasi, akhirnya ditunjukkan warung emper Pak Gun. 

Pak Gun sebagai pewaris tunggal Pak Atim, saat ini berjualan di depan sebuah toko barat jalan, seberang barat Stadion Merdeka Jombang. Sekitar 50 meter dari lampu merah Stadion Merdeka. Bersama istri dan anak-anak saya mendatangi lokasi warungnya. Sebagai eks-asisten Pak Atim yang setia, rupanya Pak Gun dari sisi entertain kurang begitu menguasai. Sehingga warungnya terlihat kurang begitu menarik. Bisa dibilang sangat tidak layak untuk sebuah warung yang menyajikan masakan yang diwarisi dari seorang legenda.

Bahkan mungkin bagi gen-Z (generasi millenial), warung ini tidak akan pernah berada dalam list tempat jujugan, dibanding dengan kafe atau warung-warung yang ditata secara artistik, walau dengan sajian masakan yang rata-rata sangat amburadul dalam hal rasa.

Sampai saat ini, Pak Gun masih setia menggunakan api dari arang dalam memasak. Meskipun, dia tidak lagi menggunakan asisten untuk mengipasi arang. Saat ini, dia menggunakan kipas angin kecil untuk terus membarakan api arang. Saat masakan mulai mengepulkan asap, aroma mulai menyebar. Rasanya badan ini masih duduk di kursi kayu depan Pak Atim yang menghadap wajan di tahun 80-an. Aromanya masih sama. Mie Jawa khas Pak Atim.

Di masa pandemi wabah ini, sengaja saya tidak makan di tempat. Disamping lokasi yang menurut saya kurang nyaman, juga turut solidaritas dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Agar heigenis juga (ini sih anjuran dokter), istri juga bawa mangkuk dari rumah. Sampai di rumah, saya betul-betul menikmati masakan mie Jawa khas Jombang sampai pilinan mie terakhir. Rasanya masih seperti dulu, namun ada sedikit yang berubah, tapi overall masih tetap seperti dulu. Bagaimana ya... saya itu paling sulit jika diminta untuk mentashwir (menggambarkan) lezatnya sebuah makanan. Menurut Pak Gun, hampir semua tokoh Jombang jaman dulu pernah menikmati mie ini. (ma)

Kamis, 02 Agustus 2018

Menggerakkan Ranting dan Anak Ranting NU

Kita ketahui bersama bahwa, Ranting dan Anak Ranting adalah struktur paling bawah organisasi (jamiyah) Nahdlatul Ulama. Sebagai struktur paling bawah, tentu Ranting dan Anak Ranting merupakan khusus (khos). Sedangkan semua struktur di atasnya merupakan struktur yang lebih umum (ammah).

Lebih khusus, karena yang dikelola atau diurusi sangat khusus. Dari sisi wilayah sangat tertentu (khusus), dari sisi orang-orangnya juga tertentu dan, jelas orang-orangnya per-kepala. Persoalan atau kepentingannya-pun tidak berisfat umum, tetapi juga tertentu (khos) bagi orang-orang tersebut.

Terkait dengan hal ini, ada Qaidah Fiqh yang mengatakan:

الولاية الخاصة اقوى من الولاية العامة

Kekuasaaan dalam wilayah tertentu (khos) lebih kuat daripada kekuasaan dalam wilayah yang lebih luas (umum).

Struktur Ranting dan Anak Ranting sebagai bagian dari struktur organisasi yang paling bawah, merupakan struktur yang lebih khusus daripada struktur di atasnya (MWCNU, PCNU, PWNU dan PBNU. Karena itu, posisi Ranting dan Anak Ranting lebih kuat daripada struktur yang ada di atasnya.

Bangunan struktur Ranting dan Anak Ranting ini menjadi penopang utama dari organisasi Nahdlatul Ulama. Jika topangan utama ini runtuh, maka organisasi Nahdlatul Ulama bisa goyah. Layaknya tubuh, Ranting dan Anak Ranting merupakan jantung organisasi. Sementara yang memberikan nutrisi kepada jantung ini adalah lembaga pengkaderan utama Nahdlatul Ulama, yaitu Pondok Pesantren.

Agar organisasi Nahdlatul Ulama bisa terus bergerak secara riil dan kongkrit, tidak hanya politis, maka jantung organisasi harus digerakkan. Pertanyaannya, bagaimana menggerakkan Ranting dan Anak Ranting.

Berbeda dengan upaya menggerakkan struktur MWC atau PC, dengan membuat program strategis dalam jangka waktu 5 tahunan, kemudian diturunkan menjadi kegiatan-kegiatan sebagai upaya untuk menggerakkan struktur yang ada di bawahnya. Menggerakkan Ranting dan Anak Ranting dilakukan secara intensif untuk menjawab kebutuhan (to fulfill the need) atau menyelesaikan masalah (to solve the problem) dengan pendekatan komunitas.

Dalam prakteknya bisa dilakukan dengan melakukan identifikasi masalah melalui pertemuan anggota Ranting atau Anak Ranting. Di sinilah letak lebih khususnya struktur Ranting atau Anak Ranting. Yang dihadapi langsung anggota (per-orang). Berbeda dengan MWC ke atas. Pertemuan tersebut mengidentidikasi semua kebutuhan atau masalah yang dihadapi bersama. Dari berbagai kebutuhan atau masalah yang ada, dipilih yang paling mungkin untuk dijawab atau diselesaikan segera secara bersama.

Kemudian, masalah apa saja? Semua masalah. Disinilah irisan (bertemunya) berbagai masalah yang selama ini berusaha diselesaikan Lembaga-lembaga di PC atau MWC. Di tengah-tengah warga, masalah tidak dibeda-bedakan. Mungkin selema ini, hanya di Lembaga-lembaga, baik MWC, PC, PW atau PB masalah disesuikan dengan bidang kerja Lembaga masing-masing. Baik masalah sosial, pendidikan, agama, kesehatan, ekonomi atau hukum.

Warga NU tidak melihat dan tidak peduli apakah masalahnya akan dibantu diselesaikan oleh Lembaga Perkonomian, Lembaga Pendidikan, Lembaga Kajian dan SDM, Lembaga Hukum atau Lembaga Zakat. Yang penting adalah masalah terseleaaikan atau kebutuhan terpenuhi.

Setelah kebutuhan atau masalah yang akan dipenuhi atau diselesaikan sudah disepakati, selanjutnya membuat rencana bagaimana upaya memenuhi dan menyelesaikan akan dilakukan. Dalam perencanaan ini disepakatilagi secara bersama: apa kegiatan yang akan dilakukan, siapa yang akan memimpin (koordinator), kapan dan dimana akan dilakukan, bagaimana kegiatan dilakukan, siapa saja yang dilibatkan dan berapa biaya yang dibutuhkan.

Pertanyaan lanjutan, darimana sumberdaya (orang, tempat, dana dan lain-lain) yang dibutuhkan dipenuhi? Tentu, karena ini kebutuhan warga dan masalah warga, maka semua sumberdaya yang dibutuhkan dari warga. Semua harus memberikan kontribusi, baik tenaga, fasilitas atau dana.

Saat sudah dilaksanakan, jika berjalan secara reguler dalam jangka waktu tertentu, maka dibutuhkan kegiatan monitoring. Kegiatan monitoring ini untuk memastikan kegiatan dijalankan sesuai dengan rencana, baik waktu, tempat, orang, proses dan biaya.

Di akhir kegiatan, perlu dilakukan evaluasi, dengan melihat apakah kegiatan sudah bisa mencapai tujuan dalam perencanaan dan, apa dampak yang terjadi dari pelaksanaan kegiatan tersebut.

Agar upaya menggerakkan Ranting atau Anak Ranting ini bisa berjalan dengan baik, maka program atau kegiatan MWC sebagai struktur yang berfungsi koordinatif ke Ranting atau Anak Ranting, harus diupayakan mengarah pada melayani (mendampingi) Ranting atau Anak Ranting. Sementara organisasi yang ada di atasnya lagi (PC) menyusun program/kegiatan pada upaya memperkuat MWC agar memiliki kekuatan dalam melayani Ranting atau Anak Ranting. (Muslimin Abdilla)

Sabtu, 23 Juni 2018

Keramatnya NU

Jamiyah Nahdlatul Ulama itu memiliki keramat. Demikian disampaikan KH Abd Nashir Fattah Tambakberas, cucu KH Bisri Syansuri Denanyar. Pernyataan tersebut dinukil dari guru Kiyai Nashir, yaitu KH Maimun Zubair Sarang.

Bukti NU memiliki keramat dapat dilihat dari perjalanannya. Banyak pengurus NU yang terlihat memiliki keramat, tetapi dalam kenyataannya, bukan orang-perorang pengurus NU tersebut yang memiliki keramat. Karena ada beberapa pengurus NU yang memiliki keramat yang cukup besar saat menjadi pengurus. Namun setelah tidak lagi menjadi pengurus keramatnya ikut meredup. Kiyai Nashir tidak menyebutkan siapa-siapa saja orang tersebut. Inilah bukti bahwa, keramat itu dimiliki NU sebagai jamiyah.

Sementara, dalam kesempatan yang berbeda, Agus M. Zaki Tebuireng, cucu Hadratus Syech KH Hasyim Asyari, saat ditanya, apa keramatnya Hadratus Syech? Dia menjawab bahwa, keramatnya Hadratus Syech salah satunya yang paling besar adalah Nahdlatul Ulama. Tentu, menurutnya juga sebagai keramatnya para pendiri Nahdlatul Ulama yang lain.

Menurut syaikh Zainuddin Abdurrauf al Munawi, dalam kitabnya, al Kawakib al Durriyah, karomah adalah peristiwa luar biasa yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada para wali-Nya. Berkaitan dengan hal ini, ulama Ahlussunnah wal Jamaah bersepakat bahwa, karomah itu ada. Karomah inilah yang dalam tutur Jawa atau Indonesia dikatakan sebagai keramat. Kenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang yang bertakwa).

Menurut Syech al Munawi, dalam kitab yang sama, salah satu keramat yang diberikan kepada para wali salah satunya adalah Allah menghancurkan orang yang menghendaki keburukan pada mereka.

Yang dicontohkan dalam kitab tersebut adalah ada seorang wali yang berdesakan dengan seseorang, lalu dia menampar wajah sang wali. Tiba-tiba tangannya terlepas bersama dengan pukulan itu. Padahal tidak ada niatan dari sang wali untuk membalas. Sang wali hanya menyatakan, aku tidak menghendakinya, tapi Allah SWT yang memiliki anggota tubuh itu yang cemburu.

Jika disambungkan dengan konteks saat ini, dan sejak Nahdlatul Ulama didirikan, dimana banyak orang atau golongan yang menghendaki keburukan kepada Nahdlatul Ulama, pada akhirnya, orang atau golongan itu sendiri yang mengalami kehancuran. Ada beberapa peristiwa dalam sejarah Indonesia, orang atau golongan yang berusaha menghancurkan Nahdlatul Ulama, pada akhirnya mereka sendiri yang hancur. Yang dicontohkan Syaikh al Munawi adalah satu orang wali, padahal di Nahdlatul Ulama ada banyak sekali wali Allah yang membentengi.
Wallahu a’lam bisshowab. (ma)