Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Memompa semangat dalam menghadapi hidup

Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi lebih luas untuk kehidupan semua orang. Berjalin, bersyirik (bersekutu) dengan yang lain adalah kunci dalam menghadapi seluruh persoalan hidup. Tanpa itu, pasti sendiri dan tentu berat

Selasa, 18 Agustus 2026

NOTULEN STUDI BANDING


Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum (MMA) ke Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen, Pati

A. Waktu dan Tempat

Hari : Senin

Tanggal : 21 Juni 2026

Pukul : 08.00 WIB

Tempat : Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM), Kajen, Pati


B. Acara

Studi Banding Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum ke Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) dalam rangka memperdalam wawasan pengelolaan lembaga pendidikan, kurikulum, kesiswaan, hubungan dengan pesantren, keuangan, humas, dan pengembangan kelembagaan.


C. Jalannya Acara

1. Pembukaan

Acara dibuka oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan sambutan dari pihak PIM dan rombongan MMA.


2. Sambutan Pihak PIM

Disampaikan oleh Ust. Ahmad Ismail


Pokok-pokok sambutan:


Menyampaikan rasa syukur dan ucapan selamat datang kepada rombongan MMA.


PIM terdiri atas unit putra (banin) dan putri (banat) yang menempati gedung terpisah, mulai jenjang Diniyah Ula hingga Aliyah.


Pihak PIM menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penerimaan tamu. Direktur PIM berhalangan hadir karena menghadiri kegiatan Suroan.


Peserta dipersilakan menggali informasi lebih lanjut kepada Kepala Tata Usaha, Pembantu Direktur Bidang Kurikulum, serta Pembantu Direktur Bidang Humas dan Pengembangan Aset.


Jumlah peserta didik PIM sekitar 4.800 siswa.


Secara kelembagaan, PIM dan pesantren memiliki kewenangan masing-masing.


Pesantren yang dapat ditempati siswa PIM adalah pesantren yang mendukung dan selaras dengan kegiatan pendidikan PIM.


Hubungan dengan alumni dibangun secara setara, bukan hubungan atasan dan bawahan. Alumni adalah seluruh orang yang pernah belajar di PIM, meskipun hanya satu atau dua tahun.


Tidak terdapat program khusus yang secara langsung menyasar masyarakat umum.


Kurikulum PIM disusun secara mandiri oleh para masyayikh dan telah mengalami beberapa penyesuaian seiring perkembangan zaman.


Pengelolaan kegiatan kesiswaan menekankan kemandirian siswa. Berbagai kegiatan seperti perkemahan dikelola sepenuhnya oleh siswa, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya.


PIM menjaga independensi lembaga, meskipun tetap menjalin hubungan baik dengan pemerintah. Sebagai contoh, saat masa pandemi Covid-19, kegiatan pembelajaran tetap berlangsung dengan kebijakan internal lembaga.


3. Sambutan Rombongan MMA

Disampaikan oleh H. Abdulloh Rifan


Pokok-pokok sambutan:


Menyampaikan terima kasih kepada PIM atas kesediaan menerima kunjungan studi banding.


Tujuan kunjungan ini adalah untuk bertabarruk dan mengambil manfaat dari pengalaman PIM.


MMA dan PIM memiliki kedekatan historis dan nilai-nilai yang serupa sebagai lembaga pendidikan Islam.


Kunjungan ini juga bertujuan untuk memperoleh bahan refleksi dalam perencanaan pengembangan jangka panjang MMA.


Salah satu fokus utama yang ingin dipelajari adalah hubungan kelembagaan antara PIM dan pesantren.


Sebelum kegiatan ini, rombongan MMA telah melakukan komunikasi dengan pihak PMH sehingga memperoleh gambaran awal mengenai hubungan PIM dan pesantren.


MMA berharap dapat menemukan model pengelolaan yang dapat direplikasi, khususnya pada aspek kurikulum, kesiswaan, pengelolaan beberapa gedung pendidikan, dan sistem pembiayaan.


MMA juga ingin memahami pengelolaan data EMIS antara lembaga pendidikan dan pesantren yang selama ini menjadi isu sensitif.


Ingin mengetahui sistem pengelolaan hafalan, kenaikan kelas, dan kelulusan siswa.


Menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat hal yang kurang berkenan selama kunjungan.


4. Presentasi Profil dan Sistem Pengelolaan PIM

A. Bidang Kurikulum

Disampaikan profil umum PIM, sistem kurikulum, dan perkembangan kurikulum yang disusun secara mandiri oleh para masyayikh.


B. Bidang Kesiswaan

Disampaikan sistem pengelolaan kesiswaan yang menekankan pada kemandirian dan kepemimpinan siswa dalam menjalankan berbagai kegiatan.


C. Bidang Tata Usaha

Materi yang disampaikan meliputi:


Sistem keuangan dan pembayaran.


Struktur organisasi lembaga.


Sistem pengelolaan dan pemantauan keaktifan guru.


D. Bidang Humas dan Pengembangan Lembaga

Pokok-pokok yang disampaikan:


Kekuatan utama PIM terletak pada jaringan alumni.


Banyak alumni yang mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan, namun tetap merekomendasikan PIM sebagai tempat belajar.


PIM aktif berkolaborasi dengan alumni, termasuk melakukan survei kualitas lembaga pendidikan milik alumni serta pendataan profesi alumni setelah lulus.


Setiap akhir bulan dilaksanakan kegiatan Mau'idlah Akhir Bulan sebagai sarana penguatan nilai dan budaya lembaga.


Komunikasi dengan pesantren dijaga secara intensif dan berkesinambungan.


Pada masa awal pembentukan Bidang Humas, PIM secara khusus mengundang para pengasuh pesantren untuk membangun komunikasi dan sinergi.


PIM merekomendasikan pesantren yang mendukung program pendidikan PIM.


Terdapat pesantren yang tidak dapat menjalin kerja sama dengan PIM karena adanya ketidaksesuaian kebijakan, maka PIM tidak merekomendasikan siswa PIM untuk mondok di pesantren tersebut.


Sebagian besar guru merupakan alumni PIM.


Dalam penyelenggaraan kegiatan besar PIM, pesantren memberikan dukungan dengan tidak menjadwalkan kegiatan yang berbenturan.


5. Diskusi dan Temuan Penting

Muncul gagasan untuk membangun dan mengonsolidasikan jaringan alumni khusus MMA di berbagai wilayah sebagai kekuatan pengembangan lembaga.


Dalam pembimbingan karya ilmiah tugas akhir, PIM menerapkan rasio 1 musyrif untuk 5 siswa.


Program tugas akhir ke depan di MMA, pada awalnya bisa diterapkan sebagai program pilihan bagi siswa tingkat akhir sebelum berkembang menjadi sistem yang lebih luas.


Hubungan yang harmonis antara lembaga pendidikan, alumni, dan pesantren menjadi salah satu faktor penting dalam penguatan dan keberlanjutan PIM.


Kemandirian siswa dalam mengelola kegiatan menjadi salah satu ciri khas sistem pendidikan PIM yang dapat menjadi bahan kajian untuk pengembangan di MMA.


D. Penutup

Kegiatan studi banding berlangsung dengan lancar dan penuh keakraban. Rombongan MMA memperoleh banyak informasi dan pengalaman terkait pengelolaan lembaga pendidikan, hubungan dengan pesantren, penguatan alumni, sistem kurikulum, kesiswaan, keuangan, dan pengembangan kelembagaan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan perencanaan Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum di masa mendatang.


Notulis,


Abdilla, Muslimin





Jumat, 19 Juni 2026

Kisah Koperasi Cakra Sengon: Bermodal Rp20 Ribu, Sukses Bebaskan Warga RT dari Jerat Hutang Bunga Tinggi



Di tengah gempuran pinjaman online (pinjol) dan bank thithil yang kian meresahkan masyarakat, sebuah gerakan ekonomi mikro di tingkat Rukun Tetangga (RT) di Jombang justru berhasil membuktikan diri mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi warga.

Adalah Koperasi Cakra, sebuah koperasi berbasis komunitas yang ruang lingkupnya hanya mencakup wilayah RT 18 Desa Sengon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Memulai langkah dari modal yang sangat kecil, koperasi ini kini telah tumbuh menjadi pilar ekonomi sekaligus sosial bagi warga setempat.

Berawal dari Kegelisahan Terhadap Lembaga Keuangan Bunga 40 Persen

Kilas balik ke bulan Agustus 2006, pendirian Koperasi Cakra lahir dari sebuah ruang musyawarah yang bersahaja. Saat itu, delapan orang panitia dan pembina kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan RI berkumpul. Bukan sekadar membubarkan panitia, mereka justru berembuk memikirkan solusi konkret atas persoalan pelik yang dihadapi warga RT 18.

"Persoalan paling utama saat itu adalah maraknya lembaga keuangan informal yang mencekik warga yang memberikan pinjaman dengan bunga hingga 40 persen. Banyak warga yang terjerat utang, lingkaran berputar cepat, dan mereka sangat kesulitan melunasinya," ujar salah satu perintis.

Terinspirasi oleh gerakan koperasi masyarakat Jombang yang tergabung dalam Konsorsium Rakyat Jombang, delapan orang tersebut sepakat mendirikan koperasi simpan pinjam mandiri. Modal awalnya sangat mandiri: Simpanan Pokok (Simpo) ditetapkan sebesar Rp20.000 awal per anggota, dan Simpanan Wajib (Simwa) sebesar Rp10.000 per bulan.

Awalnya, para pengurus sempat dilanda rasa pesimis karena minimnya pengalaman. Namun, konsistensi membuktikan sebaliknya. Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) pertama di tahun 2007, antusiasme warga justru meledak. Anggota yang awalnya hanya 8 orang melonjak menjadi 40 orang, dengan aset tahun pertama langsung menyentuh angka Rp10 juta.

Dua Dekade Berjalan: Aset Menembus Setengah Miliar Rupiah

Kini di tahun 2026, Koperasi Cakra menapaki usia matang yang ke-20 tahun. Dari cakupan wilayah RT 18 Desa Sengon yang padat penduduk (dihuni sekitar 200 KK), koperasi ini sekarang telah merangkul 86 anggota aktif—merupakan mayoritas warga di usia produktif di lingkungan tersebut.

Berdasarkan laporan neraca keuangan akhir tahun 2025, angka-angka pertumbuhan koperasi mini ini sangat fantastis untuk skala tingkat RT:

• Total Aset (Aktiva): Rp587.569.800,- (terdiri dari kas Rp103.711.000,- dan piutang anggota Rp483.858.800,-).

• Total Kewajiban (Liabilitas): Rp365.708.000,-

• Total Kekayaan (Ekuitas): Rp221.861.800,-

Seiring pertumbuhan aset, nilai Simpanan Pokok pun kini disesuaikan menjadi Rp750.000 per anggota (yang dapat diangsur bagi anggota baru), sementara Simpanan Wajib dipertahankan tetap Rp10.000 per bulan agar tidak memberatkan warga.

Dari Sembako, Dana Pendidikan, hingga Hajatan Warga

Dalam perjalanannya, Koperasi Cakra sempat melebarkan sayap ke sektor riil dengan membuka unit usaha sembako pada kurun waktu 2010–2013. Namun, demi menjaga efektivitas pengurus yang terbatas, koperasi akhirnya memilih kembali fokus pada layanan simpan pinjam terintegrasi.

Keunggulan utama koperasi ini terletak pada fleksibilitasnya dalam menjawab kebutuhan mendesak anggotanya. Melalui keputusan RAT, Koperasi Cakra menyediakan skema pinjaman khusus di momen-momen krusial, seperti: (1) Musim masuk Sekolah, dengan membantu biaya pendaftaran dan seragam anak saat tahun ajaran baru; (2) dana hajatan, dengan membantu modal besar saat warga mengadakan pernikahan atau khitanan anak, dengan sistem komitmen pelunasan pasca-acara agar dana bisa bergulir ke warga lain.

Meski akses dana sangat mudah, pengurus tidak bosan-bosan memberikan edukasi literasi keuangan. Anggota selalu diarahkan untuk memprioritaskan pinjaman untuk sektor produktif (modal usaha) ketimbang perilaku konsumtif.

Kunci utama bertahannya Koperasi Cakra selama 20 tahun adalah transparansi dan asas demokrasi. Prinsip gotong royong ini diwujudkan melalui pelaksanaan RAT yang rutin digelar setiap tahun tanpa absen—kecuali saat pandemi Covid-19 yang dialihkan via daring. Di forum RAT inilah, semua laporan keuangan (rugi laba, SHU, neraca) dibuka segamblang-gamblangnya, sekaligus menjadi ruang belajar keuangan bagi warga awam.

Lebih dari sekadar lembaga keuangan, Koperasi Cakra bertransformasi menjadi "ruang tunggu" solusi sosial. Dalam pertemuan rutin bulanan, agenda tidak hanya diisi dengan setor simpanan atau bayar angsuran, melainkan juga menjadi wadah rembuk warga terkait keamanan lingkungan, kebersihan, hingga penyelesaian problem sosial antar-tetangga.

Melalui filosofi dari warga, oleh warga, dan untuk warga, Koperasi Cakra di RT 18 Sengon ini menjadi bukti nyata bahwa kemandirian ekonomi umat tidak harus menunggu skala besar. Berbekal komitmen dan kejujuran, kesejahteraan berkeadilan bisa dimulai dari gang-gang kecil di tingkat RT. (Musabdilla)

Jumat, 05 Juni 2026

Menjadi Kader Penggerak: Tiga Amanah Besar Alumni Muallimin Muallimat Tambakberas



Momen haflatul wada' (perpisahan) setelah tamat belajar di Madrasah Muallimin Muallimat merupakan fase yang penuh pergolakan rasa bagi siswa kelas akhir. Gembira, haru, dan sedih bercampur aduk menjadi satu.

​Rasa tersebut hadir bersama rentetan kenangan yang berjajar rapi sejak pertama kali mereka menapakkan kaki di madrasah dan pondok pesantren. Mulai dari yang menempuh pendidikan selama empat, lima, enam, tujuh, bahkan hingga sepuluh tahun, semua memori itu berputar kembali di hari perpisahan ini.

​Ledakan emosi di hari haflatul wada' ini bukan tanpa alasan. Guru-guru dan para santri tentu ingat betul bagaimana awal mula mereka masuk ke madrasah ini:​Banyak yang belum tahu cara menulis huruf hijaiyah dari kanan ke kiri; belum paham cara menyambung huruf menjadi kalimat yang utuh; asing dengan cara memberi makna (ngabsahi) setiap kalimat bahasa Arab di berbagai kitab; belum mampu membaca barisan kalimat Arab gundul dalam jilid-jilid kitab turats (kitab kuning).

​Namun, waktu dan kesabaran mengubah segalanya. Melalui ujian bertingkat hingga ujian akhir madrasah, kini mereka lulus dengan kemampuan yang luar biasa. Ratusan mata yang meneteskan air mata dan hati yang tertunduk penuh tawaddu’ serta tadarru’ di momen perpisahan ini adalah bukti nyata dari sebuah proses perjuangan yang indah.

​Al-wada’ (perpisahan) adalah sebuah keniscayaan. Proses belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, khususnya di Madrasah Muallimin Muallimat, menuntut para santri untuk berpisah dengan teman sejawat, guru-guru ikhlas, para kyai, dan madrasah yang telah menempa mereka sekian lama.

​"Dalam hidup tidak ada yang kekal, bahkan perpisahan sendiri juga tidak kekal. Berpisah dengan yang satu akan bertemu dengan yang lain dan berpisah lagi. Karena yang kekal adalah tidak pernah berpisah dengan Yang Maha Kekal, yaitu Allah SWT."

​Tiga Tanggung Jawab Besar Lulusan Muallimin Muallimat

​Satu hal yang harus disadari oleh para alumni, momen perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan gerbang awal perjuangan. Madrasah Muallimin Muallimat telah mendidik siswanya untuk memikul tiga tanggung jawab besar:

​1. Menjadi Kader Madrasah (Muallim Penggerak)

​Sesuai cita-cita pendiri madrasah, lulusan disiapkan menjadi seorang muallim (guru/penggerak). Setelah mendalami ilmu pengetahuan dan membentuk akhlakul karimah, mereka kini dituntut memiliki keterampilan untuk berkiprah dan menggerakkan masyarakat di mana pun mereka hidup kelak.

​2. Menjadi Kader Pondok Pesantren Bahrul Ulum

​Sebagai kader Bahrul Ulum, lulusan berkewajiban menyebarkan kalimat-kalimat Allah SWT. Perjuangan ini diringkas dalam satu konsep mulia, yaitu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

​3. Menjadi Kader Nahdlatul Ulama (NU)

​Meneladani spirit perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama, serta para muassis (pendiri) dan kyai di Tambakberas, siswa Madrasah Muallimin Muallimat adalah kader tulen NU.

​Alumni harus memiliki bekal kuat untuk menggerakkan organisasi Nahdlatul Ulama sesuai visi dan misinya. Tujuannya jelas: menjadikan NU sebagai wadah ulama dalam membangun jamaah yang lebih kuat, mandiri, dan hidup dalam keadilan.

​"Kalian para siswa yang akan menjadi lulusan adalah kader madrasah, kader Bahrul Ulum, dan kader Nahdlatul Ulama. Maka, hidup kalian harus bersiap untuk mengabdi menjadi kader, di mana pun kalian akan hidup, berkarier, dan bekerja." (Alba)

Senin, 16 Februari 2026

Penggerak Yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama

Selama ini, di lingkungan jamiyah Nahdlatul Ulama, kita mengenal penggerak utama Nahdlatul Ulama ketika sebelum dan di awal-awal pendiriannya adalah KH A. Wahab Hasbullah. Sebagai seorang penggerak, Kyai Wahab menjalankan misi gerakan, dengan menggerakkan orang, dalam hal ini kyai-kyai, untuk secara bersama-sama terlibat dan melakukan kegiatan dalam jamiyah baru Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana yang pernah kami tulis, menggerakkan seluruh kyai di wilayah Jawa, Madura, bahkan Sumatera dan Nusa Tenggara Barat saat itu, berarti menggerakkan sekian ratus ribu, bahkan sekian juta orang jamaah untuk terlibat dan berkegiatan dalam jamiyah Nahdlatul Ulama. Karena seorang kyai di satu kabupaten bisa menjadi pemimpin dari sekian ribu jamaah. Jamak kita ketahui, seorang kyai yang mampu menggerakkan sekian ribu jamaah tersebut merupakan perwakilan jamaah yang "dipilih" secara selektif dan substantif dalam jangka waktu yang panjang. Pemilihan tersebut sangat jauh berbeda dengan pemilihan anggota parlemen atau pemimpin politik daerah atau pusat.

Dalam satu tulisan pernah diceritakan, bagaimana Kyai Wahab mendatangi satu persatu, melobi dan meyakinkan para kyai yang ada di beberapa daerah untuk terlibat, masuk menjadi anggota dan melakukan kegiatan di jamiyah Nahdlatul Ulama. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Nahdlatul Ulama menjadi jamiyah (organisasi) yang sangat besar. Apalagi upaya yang dilakukan Kyai Wahab sudah ditopang oleh kelembagaan pondok pesantren, lebih jauh lagi oleh kelembagaan paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Madzahibil Arbaah. Dalam hal ini, Kyai Wahab melakukan pengorganisasian kyai-kyai yang mengasuh pondok pesantren dan kyai-kyai yang berpaham Aswaja ala Madzahibil Arbaa, yang hampir seluruhnya adalah alumni pondok pesntren.

Misi yang dijalankan Kyai Wahab merupakan upaya membangun sebuah gerakan besar yang lingkup wilayahnya tidak main-main: se-Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Misi yang telah dijalankan Kyai Wahab adalah untuk visi menjaga dan melestarikan ajaran Aswaja tetap dijalankan dengan baik. Oleh siapa? Oleh para jamaah, yang selanjutnya menjadi anggota Nahdlatul Ulama. Ajaran Aswaja apa? Ajaran dalam hal ibadah dan muamalah, termasuk bagaimana para jamaah bisa hidup sejahtera di dunia.

Jika Kyai Wahab sudah menggerakkan sekian ratus, bahkan mungkin sekian ribu Kyai, selanjutnya bagaimana para kyai menggerakkan jamaah Nahdlatul Ulama agar bisa terus melestarikan ajaran Aswaja, terutama di jaman yang penuh gejolak sosial, ekonomi dan politik saat ini. Menggerakkan jamaah, terutama untuk urusan muamalah (sosial, ekonomi bahkan politik keumatan) tidak harus dimulai dari lingkaran yang besar.

Menggerakkan jamaah adalah melakukan satu kegiatan secara bersama-sama untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan dalam berbagai bidang kehidupan: sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Masalah sosial budaya terkait dengan relasi antar jamaah. Kebutuhan sosial budaya bisa terkait dengan penyelenggaraan majelis dzikir dan majelis ilmu. Masalah ekonomi dan kebutuhan ekonomi terkait dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Sedangkan masalah politik terkait dengan partisipasi dalam kebijakan publik.

Karena dari melakukan kegiatan secara bersama-sama ini, jamaah bisa saling memahami antara satu dengan yang lain, sehingga akan tumbuh solidaritas yang lebih besar. Bukan sekedar solidaritas yang sifatnya emosional, tetapi solidaritas yang bersifat rasional, dan bertumpu ke kesamaan nasib dan berjuang untuk mengubah nasib yang lebih baik. Dari solidaritas yang tumbuh ini, soliditas dan konsolidasi jamiyah Nahdlatul Ulama akan bertambah kuat. Di sinilah makna al ittihad yang disebut dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama, yang ditulis Hadratus Syaikh Hasyim Asyari.

Solidaritas yang kuat akan menumbuhkan perjuangan untuk meraih visi besar Nahdlatul Ulama yang tertuang secara jelas dalam AD/ART Perkumpulan Nahdlatul Ulama: berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta. (Alba)

Minggu, 15 Februari 2026

20 Tahun Koperasi Cakra



(Laporan Pengurus Kop Cakra dalam RAT 2025)

Koperasi Cakra adalah koperasi komunitas, yang anggotanya berdomisili dalam satu komunitas, yaitu komunitas warga RT 18 desa Sengon Jombang. Koperasi Cakra bukanlah lembaga ekonomi yang besar. Lingkup wilayah kerjanya hanya dalam satu RT. Koperasi ini memulai aktifitas dari jumlah anggota yang sedikit, dan dengan modal yang kecil, yang seratus persen berasal dari simpanan anggota.

Koperasi ini didirikan pada bulan Agustus 2006. Pendirian koperasi ini dilakukan setelah delapan orang yang menjadi panitia dan pembina kegiatan peringatan hari kemerdekaan RI melakukan musyawarah yang membahas kegiatan apa yang bisa menjadi kelanjutan dari kegiatan yang telah dilakukan secara bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab persoalan warga. Hasil dari musyawarah tersebut menyimpulkan bahwa, persoalan yang paling utama di lingkungan RT 18 yang harus dicarikan solusinya adalah banyaknya lembaga keuangan simpan pinjam, yang memberikan pinjaman ke warga dengan bunga yang cukup tinggi, dan banyaknya warga terjerat hutang yang terus berkembang sangat cepat dan sulit untuk menutupnya, karena bunga yang dipatok sampai sebesar 40 persen.

Setelah musyawarah tersebut, ada musyawarah lanjutan yang hasilnya menyepakati untuk mendirikan koperasi simpan pinjam, yang benar-benar akan dijalankan dengan prinsip-prinsip koperasi, meskipun dalam lingkup yang kecil. Tujuan pendirian Koperasi Cakra adalah untuk menciptakan akses ekonomi, terutama keuangan, bagi masyarakat, sehingga bisa tercipta keadilan dalam ekonomi.

Pendirian koperasi ini tidak datang begitu saja, karena pada waktu itu ada beberapa kelompok masyarakat di Jombang yang telah memulai menjalankan usaha koperasi, sebagai jawaban dari kebutuhan kongkrit. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut tergabung dalam sebuah forum bersama bernama Konsorsium Rakyat Jombang. Usaha koperasi di kelompok-kelompok masyarakat tersebut kemudian disampaikan dalam musyawarah dan akhirnya disepakati pendirian koperasi. Dalam musyawarah tersebut juga disepakati simpanan pokok (Simpo) awal sebesar Rp 20.000, yang akan ditambah nilainya setiap tahun, serta simpanan wajib (Simwa) sebesar Rp 10.000 setiap bulan.

Setelah berdiri, dan kegiatan simpan pinjam mulai berjalan, diantara pengurus yang dipilih masih merasa pesimis. Karena secara riil belum memiliki pengalaman dalam menjalankan kegiatan usaha koperasi simpan pinjam. Namun setelah berjalan satu tahun, yang ditandai dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) I tahun 2007, ternyata banyak warga yang tertarik dengan kegiatan koperasi, karena semua keputusan penting terkait dengan usaha simpan dan pinjam ditentukan oleh anggota. Dalam RAT I tersebut, anggota berkembang cukup pesat. Dari awal hanya delapan orang menjadi empat puluh orang. Sedangkan dalam laporan neraca yang dibuat pada tahun pertama tersebut, aset-nya (aktiva) berkembang menjadi sebesar 10 juta.

Dari sini, nilai manfaat koperasi ini sudah mulai dirasakan oleh semua anggota, dimana akses mendapatkan dana, baik untuk modal usaha maupun untuk kebutuhan khusus, bisa didapatkan dengan mudah, denan jasa sesuai dengan yang disepakati oleh anggota. Hal ini, karena koperasi, termasuk koperasi Cakra didirikan untuk sebesar-besarnya memberikan manfaat bagi anggota. Meskipun begitu, dalam melakukan pendidikan koperasi, pengurus selalu menyarankan kepada anggota, agar ketika pinjam ke koperasi digunakan untuk hal-hal yang produktif, supaya dana bisa dikembangkan. Tidak menggunakan dana pinjaman dari koperasi untuk belanja barang konsumtif.

Rutin Menyelenggarakan RAT Setiap Tahun

Meskipun dengan modal awal yang kecil dan, dengan jumlah anggota yang tidak banyak, Koperasi Cakra dalam pengelolaannya benar-benar menjalankan prinsip-prinsip koperasi. Salah satunya semua keputusan dilakukan secara demokratis melalui musyawarah anggota dalam RAT, yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun, sejak tahun pertama. Kecuali saat terjadi pandemi Covid 19, RAT ditiadakan, laporan hanya dikirim melalui media sosial.

Keputusan yang dibuat dalam RAT merupakan keputusan-keputusan strategis selama satu tahun ke depan. Keputusan-keputusan tersebuut antara lain terkait dengan usaha yang dilakukan dalam setahun ke depan, keputusan tentang besaran jasa simpan dan pinjam, keputusan penambahan besaran Simpo, dan keputusan maksimal nilai nominal dana yang dipinjamkan ke anggota.

Dalam RAT juga dilaporkan dan dibahas tentang laporan keuangan, antara lain laporan rugi laba (R/L), laporan nominal Simpo dan Simwa setiap anggota, laporan sisa hasil usaha (SHU) dan laporan neraca. Dari sini semua kekayaan Koperasi Cakra bisa diketahui oleh seluruh anggota. Dari sini juga, anggota bisa belajar tentang keuangan koperasi.

Setelah Berjalan 20 Tahun

Pada tahun 2026, Koperasi Cakra sudah berumur 20 tahun. Perjalanan yang lumayan panjang, jika dilihat dari umur manusia. Saat ini jumlah anggota sudah mencapai 86 orang. Hampir semua warga lingkungan RT yang produktif menjadi anggota. Secara demografis, RT 18 Sengon merupakan RT yang memiliki jumlah warga yang cukup banyak. Ada sekitra 200 keluarga yang berdomisili di RT 18. Karena itu, termasuk wilayah RT yang padat. Jumlah keluarga dan penduduknya jika dibandingkan dengan RT-RT yang lain, apalagi yang berada di wilayah desa bisa dua atau tiga kali lipat.

Dari sisi perkembangan usaha, setelah 20 tahun berjalan, yang dimulai dari modal yang sangat kecil, dalam laporan neraca tahun 2025 dinyatakan:

1. Jumlah total aset (aktiva) Rp 587.569.800,- yang terdiri dari kas Rp 103.711.000,- dan piutang Rp 483.858.800,-

2. Total kewajiban (liabilitas) Rp 365.708.000,-

3. Total kekayaan (ekuitas) Rp 221.861.800

Sedangkan simpanan pokok anggota saat ini menjadi Rp 750.000,- untuk setiap anggota, simpanan wajib tetap Rp 10.000,- setiap bulan. Bagi anggota yang baru bergabung bisa membayar simpanan pokok dengan mengangsur setiap bulan.

Memenuhi Kebutuhan Riil Anggota

Dalam perjalanannya, disamping menjalakann kegiatan simpan pinjam, Koperasi Cakra juga pernah menjalankan usaha jual sembako. Usaha ini dijalankan sekitar tahun 2010-2013, dengan melayani belanja sembako anggota. Namun usaha ini tidak lagi dijalankan karena pengurus yang terbatas merasa berat dengan dua usaha yang telah dijalankan, dan Koperasi Cakra kembali fokus kepada usaha simpan pinjam.

Dalam salah satu RAT, pernah ada keputusan yang sangat membantu anggota, yaitu pinjaman kepada anggota di saat-saat membutuhkan. Kebutuhan tersebut ketika tahun ajaran baru sekolah, dimana banyak anggota yang membutuhkan untuk biaya anak masuk sekolah. Juga disepakati meminjamkan untuk kebutuhan dana besar saat punya hajat, misalnya acara mengkhitankan anak atau acara pernikahan anak. Dengan syarat, setelah acara selesai, pinjaman harus segera dilunasi, agar bisa dipinjamkan kepada yang lain. Karena saat itu, aset koperasi masih sedikit.

Koperasi Cakra Juga Berfungsi Sebagai Lembaga Sosial

Secara kelembagaan Koperasi Cakra merupakan lembaga ekonomi, khususnya lembaga keuangan, yang berusaha dalam bidang keuangan. Namun secara fungsi, Koperasi Cakra juga menjadi lembaga sosial, dimana di dalamnya juga dimusyawarahkan masalah-masalah sosial, khususnya yang terjadi di lingkungan RT 18.

Masalah keamanan lingkungan, kebersihan, hubungan antar warga juga dibicarakan dalam pertemuan rutin bulanan. Dalam pertemuan rutin, disamping melakukan aktifitas keuangan, berupa pembayaran pinjaman dan simpanan, anggota juga berembug tentang berbagai masalah sosial. Sejak berdiri sampai sekarang, ada banyak masalah sosial yang bisa difasilitasi penyelesainnya melalui musyawarah di kopareai Cakra. Dari sini bisa dikatakan bahwa, koperasi Cakra tidak hanya menyelesai persoalan dalam dimensi ekonomi, tetapi juga bisa menjadi tempat untuk menyelesaikan persoalan dalam dimensi sosial.