Di tengah gempuran pinjaman online (pinjol) dan bank thithil yang kian meresahkan masyarakat, sebuah gerakan ekonomi mikro di tingkat Rukun Tetangga (RT) di Jombang justru berhasil membuktikan diri mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi warga.
Adalah Koperasi Cakra, sebuah koperasi berbasis komunitas yang ruang lingkupnya hanya mencakup wilayah RT 18 Desa Sengon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Memulai langkah dari modal yang sangat kecil, koperasi ini kini telah tumbuh menjadi pilar ekonomi sekaligus sosial bagi warga setempat.
Berawal dari Kegelisahan Terhadap Lembaga Keuangan Bunga 40 Persen
Kilas balik ke bulan Agustus 2006, pendirian Koperasi Cakra lahir dari sebuah ruang musyawarah yang bersahaja. Saat itu, delapan orang panitia dan pembina kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan RI berkumpul. Bukan sekadar membubarkan panitia, mereka justru berembuk memikirkan solusi konkret atas persoalan pelik yang dihadapi warga RT 18.
"Persoalan paling utama saat itu adalah maraknya lembaga keuangan informal yang mencekik warga yang memberikan pinjaman dengan bunga hingga 40 persen. Banyak warga yang terjerat utang, lingkaran berputar cepat, dan mereka sangat kesulitan melunasinya," ujar salah satu perintis.
Terinspirasi oleh gerakan koperasi masyarakat Jombang yang tergabung dalam Konsorsium Rakyat Jombang, delapan orang tersebut sepakat mendirikan koperasi simpan pinjam mandiri. Modal awalnya sangat mandiri: Simpanan Pokok (Simpo) ditetapkan sebesar Rp20.000 awal per anggota, dan Simpanan Wajib (Simwa) sebesar Rp10.000 per bulan.
Awalnya, para pengurus sempat dilanda rasa pesimis karena minimnya pengalaman. Namun, konsistensi membuktikan sebaliknya. Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) pertama di tahun 2007, antusiasme warga justru meledak. Anggota yang awalnya hanya 8 orang melonjak menjadi 40 orang, dengan aset tahun pertama langsung menyentuh angka Rp10 juta.
Dua Dekade Berjalan: Aset Menembus Setengah Miliar Rupiah
Kini di tahun 2026, Koperasi Cakra menapaki usia matang yang ke-20 tahun. Dari cakupan wilayah RT 18 Desa Sengon yang padat penduduk (dihuni sekitar 200 KK), koperasi ini sekarang telah merangkul 86 anggota aktif—merupakan mayoritas warga di usia produktif di lingkungan tersebut.
Berdasarkan laporan neraca keuangan akhir tahun 2025, angka-angka pertumbuhan koperasi mini ini sangat fantastis untuk skala tingkat RT:
• Total Aset (Aktiva): Rp587.569.800,- (terdiri dari kas Rp103.711.000,- dan piutang anggota Rp483.858.800,-).
• Total Kewajiban (Liabilitas): Rp365.708.000,-
• Total Kekayaan (Ekuitas): Rp221.861.800,-
Seiring pertumbuhan aset, nilai Simpanan Pokok pun kini disesuaikan menjadi Rp750.000 per anggota (yang dapat diangsur bagi anggota baru), sementara Simpanan Wajib dipertahankan tetap Rp10.000 per bulan agar tidak memberatkan warga.
Dari Sembako, Dana Pendidikan, hingga Hajatan Warga
Dalam perjalanannya, Koperasi Cakra sempat melebarkan sayap ke sektor riil dengan membuka unit usaha sembako pada kurun waktu 2010–2013. Namun, demi menjaga efektivitas pengurus yang terbatas, koperasi akhirnya memilih kembali fokus pada layanan simpan pinjam terintegrasi.
Keunggulan utama koperasi ini terletak pada fleksibilitasnya dalam menjawab kebutuhan mendesak anggotanya. Melalui keputusan RAT, Koperasi Cakra menyediakan skema pinjaman khusus di momen-momen krusial, seperti: (1) Musim masuk Sekolah, dengan membantu biaya pendaftaran dan seragam anak saat tahun ajaran baru; (2) dana hajatan, dengan membantu modal besar saat warga mengadakan pernikahan atau khitanan anak, dengan sistem komitmen pelunasan pasca-acara agar dana bisa bergulir ke warga lain.
Meski akses dana sangat mudah, pengurus tidak bosan-bosan memberikan edukasi literasi keuangan. Anggota selalu diarahkan untuk memprioritaskan pinjaman untuk sektor produktif (modal usaha) ketimbang perilaku konsumtif.
Kunci utama bertahannya Koperasi Cakra selama 20 tahun adalah transparansi dan asas demokrasi. Prinsip gotong royong ini diwujudkan melalui pelaksanaan RAT yang rutin digelar setiap tahun tanpa absen—kecuali saat pandemi Covid-19 yang dialihkan via daring. Di forum RAT inilah, semua laporan keuangan (rugi laba, SHU, neraca) dibuka segamblang-gamblangnya, sekaligus menjadi ruang belajar keuangan bagi warga awam.
Lebih dari sekadar lembaga keuangan, Koperasi Cakra bertransformasi menjadi "ruang tunggu" solusi sosial. Dalam pertemuan rutin bulanan, agenda tidak hanya diisi dengan setor simpanan atau bayar angsuran, melainkan juga menjadi wadah rembuk warga terkait keamanan lingkungan, kebersihan, hingga penyelesaian problem sosial antar-tetangga.
Melalui filosofi dari warga, oleh warga, dan untuk warga, Koperasi Cakra di RT 18 Sengon ini menjadi bukti nyata bahwa kemandirian ekonomi umat tidak harus menunggu skala besar. Berbekal komitmen dan kejujuran, kesejahteraan berkeadilan bisa dimulai dari gang-gang kecil di tingkat RT. (Musabdilla)




0 komentar:
Posting Komentar