Jumat, 05 Juni 2026

Menjadi Kader Penggerak: Tiga Amanah Besar Alumni Muallimin Muallimat Tambakberas



Momen haflatul wada' (perpisahan) setelah tamat belajar di Madrasah Muallimin Muallimat merupakan fase yang penuh pergolakan rasa bagi siswa kelas akhir. Gembira, haru, dan sedih bercampur aduk menjadi satu.

​Rasa tersebut hadir bersama rentetan kenangan yang berjajar rapi sejak pertama kali mereka menapakkan kaki di madrasah dan pondok pesantren. Mulai dari yang menempuh pendidikan selama empat, lima, enam, tujuh, bahkan hingga sepuluh tahun, semua memori itu berputar kembali di hari perpisahan ini.

​Ledakan emosi di hari haflatul wada' ini bukan tanpa alasan. Guru-guru dan para santri tentu ingat betul bagaimana awal mula mereka masuk ke madrasah ini:​Banyak yang belum tahu cara menulis huruf hijaiyah dari kanan ke kiri; belum paham cara menyambung huruf menjadi kalimat yang utuh; asing dengan cara memberi makna (ngabsahi) setiap kalimat bahasa Arab di berbagai kitab; belum mampu membaca barisan kalimat Arab gundul dalam jilid-jilid kitab turats (kitab kuning).

​Namun, waktu dan kesabaran mengubah segalanya. Melalui ujian bertingkat hingga ujian akhir madrasah, kini mereka lulus dengan kemampuan yang luar biasa. Ratusan mata yang meneteskan air mata dan hati yang tertunduk penuh tawaddu’ serta tadarru’ di momen perpisahan ini adalah bukti nyata dari sebuah proses perjuangan yang indah.

​Al-wada’ (perpisahan) adalah sebuah keniscayaan. Proses belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, khususnya di Madrasah Muallimin Muallimat, menuntut para santri untuk berpisah dengan teman sejawat, guru-guru ikhlas, para kyai, dan madrasah yang telah menempa mereka sekian lama.

​"Dalam hidup tidak ada yang kekal, bahkan perpisahan sendiri juga tidak kekal. Berpisah dengan yang satu akan bertemu dengan yang lain dan berpisah lagi. Karena yang kekal adalah tidak pernah berpisah dengan Yang Maha Kekal, yaitu Allah SWT."

​Tiga Tanggung Jawab Besar Lulusan Muallimin Muallimat

​Satu hal yang harus disadari oleh para alumni, momen perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan gerbang awal perjuangan. Madrasah Muallimin Muallimat telah mendidik siswanya untuk memikul tiga tanggung jawab besar:

​1. Menjadi Kader Madrasah (Muallim Penggerak)

​Sesuai cita-cita pendiri madrasah, lulusan disiapkan menjadi seorang muallim (guru/penggerak). Setelah mendalami ilmu pengetahuan dan membentuk akhlakul karimah, mereka kini dituntut memiliki keterampilan untuk berkiprah dan menggerakkan masyarakat di mana pun mereka hidup kelak.

​2. Menjadi Kader Pondok Pesantren Bahrul Ulum

​Sebagai kader Bahrul Ulum, lulusan berkewajiban menyebarkan kalimat-kalimat Allah SWT. Perjuangan ini diringkas dalam satu konsep mulia, yaitu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

​3. Menjadi Kader Nahdlatul Ulama (NU)

​Meneladani spirit perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama, serta para muassis (pendiri) dan kyai di Tambakberas, siswa Madrasah Muallimin Muallimat adalah kader tulen NU.

​Alumni harus memiliki bekal kuat untuk menggerakkan organisasi Nahdlatul Ulama sesuai visi dan misinya. Tujuannya jelas: menjadikan NU sebagai wadah ulama dalam membangun jamaah yang lebih kuat, mandiri, dan hidup dalam keadilan.

​"Kalian para siswa yang akan menjadi lulusan adalah kader madrasah, kader Bahrul Ulum, dan kader Nahdlatul Ulama. Maka, hidup kalian harus bersiap untuk mengabdi menjadi kader, di mana pun kalian akan hidup, berkarier, dan bekerja." (Alba)

0 komentar: